Kamis, 23 Juli 2009

Guna dari Jerami.......


Konversi minyak tanah ke gas yang sempat menimbulkan kontroversi dikalangan warga masyarakat beberapa waktu lalu mengundang perhatian kalangan kelompok mahasiswa peneliti dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang kemudian berhasil menemukan alternatif pengganti minyak tanah.

Hasil penelitian kelompok mahasiswa Fakultas Farmasi Unpad menemukan bahan bakar yang mereka namakan "Jeli bioetanol" dari bahan utama jerami menjadi pengganti minyak tanah ditampilkan pada Pameran Kreativitas Mahasiswa (PKM) di kampus Unpad Jalan Dipati Ukur Bandung, Kamis (11/6).

Salah seorang mahasiswa peneliti Sylvia, mengatakan jerami yang selama ini dianggap remeh tidak lebih dari sekedar limbah justru mengandung hemoselulosa dan jika dilakukan proses difermentasi dapat menghasilkan etanol. "Etanol merupakan zat mudah terbakar seperti terdapat pada minyak tanah," ucap Restu, anggota kelompok mahasiswa peneliti lainnya.

Bentuk jeli dipilih karena bersifat membungkus etanol dan pembungkusan itu bertujuan menjaga agar etanol tidak mudah menguap. Cara pembuatan jeli bioetanol tersebut cukup mudah, jerami dimasukkan ke dalam tempayan 15 liter yang kemudian diberi ragi.

Setelah itu, etanol menguap dan masuk ke dalam pipa kondensor untuk pengembunan. Kemudian yang muncul ialah cairan yang akhirnya diberi basis jel dan jadilah jeli bioetanol yang siap digunakan sebagai bahan bakar. Penelitian kelompok mahasiswa Fakultas Farmasi Unpad yang dilakukan awal maret 2009 itu dijadwalkan rampung pertengahan Juni 2009.

Tim penelitian mengaku belum akan memasarkan produknya, sebab mereka masih mencari formula tepat. Tapi jika selesai, hasil penelitian itu diharapkan dapat dimanfaatkan kalangan home industry dalam menggerakan usaha sebagai pengganti minyak tanah yang harganya terus melambung dan semakin sulit dicari.

Baca Selengkapnya......

Rumah Sakit serasa seperti di rumah sendiri

Jika suatu saat Anda menjalani rawat inap di rumah sakit, kemungkinan Anda akan menggunakan tempat tidur dengan merek SKN Medical atau Karixa.

Sekilas, merek yang juga menempel di meja operasi, filing cabinet dokter, atau pensteril ruangan itu seperti merek asing, produk negara lain yang mesti kita impor.

Nyatanya, perlengkapan medis dan perlengkapan rumah sakit dengan dua merek itu bukan merupakan produk impor, tetapi produk Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Dari desa kecil di Kabupaten Sukabumi itulah, perlengkapan medis yang kini masuk ke sebagian besar rumah sakit di Indonesia dan negara-negara lain itu berasal.

”Awalnya, kami membuat berbagai peralatan berbahan dasar logam yang dipesan oleh pelanggan sebelum akhirnya fokus membuat medical equipment dan hospital furniture (perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit),” kata Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha (SKN) Isep Gojali, Selasa (30/6). Tahun 1997, PT SKN memulai usaha bengkel las dengan delapan pekerja.

Bersama 39 unit usaha pengerjaan logam lain di Sentra Industri Sukabumi (Sentris) Desa Cibatu, PT SKN diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Soeharto pada 21 April 1998. Sentris adalah pusat kerajinan logam yang diprakarsai oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra. Unit usaha di Sentris mendapat bantuan permodalan sebanyak 30 persen dari Astra Modal Ventura.

Tahun 2000, PT SKN fokus pada pembuatan perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit yang kala itu belum populer di kalangan pelaku usaha pengerjaan logam.

Justru karena produsen masih langka itulah produk perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit sangat mudah terserap oleh rumah sakit. Omzet produksi pada tahun itu baru sekitar Rp 200 juta.

Pada tahun 2004, PT SKN sudah membukukan omzet Rp 1,5 miliar untuk 500 perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit dari berbagai jenis. Tahun ini omzetnya diperkirakan mencapai Rp 14 miliar. Kini PT SKN memiliki 95 karyawan tetap dan 66 karyawan tidak tetap.

Karyawan tetap PT SKN umumnya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dari jurusan mesin atau elektronik. PT SKN juga melibatkan 19 subkontraktor untuk mengerjakan bagian-bagian tertentu yang berhasil menyerap 117 karyawan. Subkontraktor itu sebagian besar merupakan unit usaha yang pernah gulung tikar terkena dampak krisis moneter 1998.

Proses pembuatan peralatan kedokteran dan rumah sakit itu rumit, mulai dari pemotongan bahan baku, pembentukan, pengelasan, penyelesaian, pengecatan, hingga ke pengepakan. Bagian desain memegang peranan penting dalam proses produksi itu. Desain harus presisi dan dapat diakses secara online oleh semua lini produksi.

Kepala Seksi Desain PT SKN Agustian mengatakan, hasil akhir desain adalah foto produk kendati produknya belum ada.

”Kami belajar perlahan-lahan mengenai perangkat lunak sampai akhirnya bisa membuat desain yang sempurna, yakni foto produk yang sesuai dengan produk yang akan dibuat,” ujar Agustian.

Pegawai PT SKN tak hanya memanfaatkan mesin untuk memproduksi produk perlengkapan kedokteran dan rumah sakit, tetapi juga untuk membuat mesin baru yang dibutuhkan perusahaan.

”Mesin yang kami buat sendiri membuat pengerjaan menjadi efisien,” ujar Agustian yang bersama rekan-rekannya sedang merancang Computer Numerical Control (CNC) Cutting Pipe.

Bagian welding atau pengelasan pun sudah menggunakan cara pengerjaan otomatis. Robot yang secara otomatis mengelas sambungan-sambungan baja itu sudah beberapa bulan ini menggantikan peran alat las mesin dan manual.

”Berubah 1 milimeter saja, semua setting akan berubah karena otomatisasi itu. Namun, alat ini jauh lebih praktis,” kata Dede Usman (26) dari bagian welding. Kini, sama sekali tak terlihat jejak bengkel las dengan peralatan sederhana di PT SKN.

SKN Medical dan Karixa memiliki keunggulan layanan purnajual dibandingkan dengan produk sejenis dari China. PT SKN memberikan jaminan perbaikan produk dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan dengan produk China yang harus menunggu suku cadang dari tempat asalnya.

Dengan makin digemarinya produk dalam negeri, lambat laun ketergantungan Indonesia terhadap perlengkapan medis dan furnitur rumah sakit dari negara asing berkurang.

Baca Selengkapnya......

Selasa, 12 Mei 2009

Terumbu Karang Bisa Jadi Penyerap Karbon


Penyerapan karbon (carbon sink) dalam proses asimilasi melalui media terumbu karang dimungkinkan terjadi, khususnya di kawasan Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.

Peneliti Bidang Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kurnaen Sumadiharga di Jakarta, Rabu, mengatakan, isu penyerapan karbon melalui media terumbu karang ini harus dijadikan topik bahasan utama dalam Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) di Manado, 11-14 Mei 2009.

Ia menjelaskan, proses fotosintesa mungkin dilakukan oleh tumbuhan yang memiliki zat hijau daun atau klorofil. Menurut dia, terumbu karang terdiri dari unsur binatang karang bernama Polip yang melakukan simbiosis mutualisme dengan tumbuhan alga, yakni ganggang hijau.

"Tumbuhan inilah yang sesungguhnya melakukan proses fotosintesa, sekalipun di dalam air," katanya. Proses fotosintesa, kata dia, memerlukan karbon dioksida (CO2) serta sinar matahari, yang selanjutnya menghasilkan oksigen (O2), air serta gula. Adapun CO2 yang menjadi bahan utama proses fotosintesa, kata dia, juga tersedia di laut.

Ia mengatakan, pada malam hari, saat terumbu karang tidak melakukan asimilasi, tumbuhan ini justru menghasilkan CO2. "Karbon yang dihasilkan saat malam hari inilah yang menjadi bahan utama terjadinya proses fotosintesa," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, keberadaan terumbu karang ini harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.

Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Laut Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Negara Lingkungan Hidup Wahyu Indraningsih menuturkan, keberadaan terumbu karang di Indonesia harus benar-benar dijaga. Menurut dia, selain disebabkan oleh penggunaan bahan peledak, perubahan iklim global beberapa waktu terakhir ini juga menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang.

Ia mengatakan, perubahan iklim berakibat terhadap naiknya suhu air laut. "Suhu air laut yang naik 2-3 derajat Celcius dalam dua minggu berturut-turut menyebabkan kerusakan terumbu karang," katanya. Kondisi semacam ini, lanjut dia, juga sudah mulai terindikasi di wilayah Indonesia.

Baca Selengkapnya......

Mencegah Sakit Punggung Saat Hamil


Sakit punggung kerap dialami wanita yang sedang hamil. Beban janin yang dibawa setiap hari selama sekitar 9 bulan dan perubahan hormon dapat menyebabkan otot tegang dan sakit pada punggung. Mencegah merupakan langkah terbaik. 

Caranya, perkuat otot inti dengan baik sebelum kehamilan. Belum terlambat untuk memulainya pada awal kehamilan. Olah raga ringan seperti step-aerobik, aqua-aerobik, jalan cepat dan latihan punggung sangat baik untuk menjaga otot inti tetap kuat dan siap menerima berat janin yang bertambah. 

Kita semua tahu bahwa ibu kehilangan lebih banyak kalsium selama perkembangan janin. Meski begitu, kehilangan ini tak akan mengakibatkan osteoporosis. Keseimbangan yang dibutuhkan fetus akan meningkat. Akibatnya, penurunan jumlah kalsium sementara untuk sang ibu bakal dialami. Namun hal ini bukan satu-satunya alasan penyebab sakit punggung. Kalsium sangatlah penting untuk otot. Pada umumnya, kebanyakan ibu tidak mengalami kalsium rendah pada darah dan otot melemah. Karena itu, suplemen kalsium tidak diperuntukkan untuk mencegah sakit punggung. Namun lebih dibutuhkan untuk pertumbuhan janin.

Ketika sakit punggung terjadi selama kehamilan, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Jika otot keseleo atau luka ligamental, umumnya olahraga singkat untuk mencegah peradangan akan mengurangi rasa sakit. Tetapi, pada cedera otot tertentu, hal ini dapat berlangsung terus-menerus. Jika sakit punggung terjadi terus selama lebih dari 1 bulan, Anda sebaiknya menemui spesialis di bidang sakit punggung. Jika tidak diatasi, ini bisa mengakibatkan sakit punggung kronis, yang akan menyulitkan proses pengobatan dan penyembuhan. Pada kondisi ini, mungkin memerlukan injeksi dengan anestesi atau steroids untuk menghilangkan masalah ini.

Fisioterapi dapat membantu meringankan sakit punggung non-spesifik, yang penyebabnya bukan tulang belakang (seperti Musculoskeletal). Selama fisioterapi, manipulasi otot untuk menonaktifkan otot bisa efektif untuk menghilangkan rasa sakit. Pengobatan laser dengan intensitas rendah juga berguna bagi pasien yang hamil tua (rahim terlalu berat) dan tidak dapat tengkurap/telungkup. 

Teknik yang dilakukan chiropractor sama dengan manipulasi otot. Mereka memijat dan “membunyikan” tulang belakang untuk merenggangkan sendi-sendi, sehingga ketegangan sendi dan otot bisa di kurangi. Latihan sendiri adalah bentuk perawatan yang lebih baik daripada melakukan manipulasi eksternal.

Baca Selengkapnya......

MOSES, Mendeteksi Malaria Lebih Cepat


Malaria sampai saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan. Padahal jika ditangani dengan cepat, malaria tidak akan sampai merenggut nyawa. Untuk memastikan seseorang terkena malaria, harus melalui pemeriksaan darah.

Daerah-daerah yang jauh dari kota, membuat pendeteksian berjalan lama. Akibatnya penderita lambat ditangani, dan banyak penderita meninggal.

Untung sekarang ini masalah ini dapat diatasi. Empat mahasiwa dari Institut Teknologi Bandung, mengembangkan sistem pendeteksian malaria yang mereka beri nama MOSES (Malaria System and Endemic Survilance).

Dengan sistem yang mereka kembangkan tersebut, tim yang diberi nama Big Bang keluar sebagai juara pertama pada Imagine Cup. Alasan tim Big Bang yang diawaki oleh David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas dan Samuel Simon membuat MOSES adalah, mereka merasa kaget ternyata penyakit malaria cukup banyak diderita oleh masyarakat hingga menyebabkan kematian karena terlambatnya penanganan.

"Sebenarnya malaria kalau baru dua hari enggak kenapa-kenapa, tapi kebanyakan penderita enggak sadar. Kalau pun sadar untuk mengecek malaria harus ada pemeriksaan darah, pada tempat terpencil laboratoriumnya tidak bisa ngecek darah. Harus dibawa sampai ke kota, butuh berhari-hari," terang Damas, salah seorang personil Bang Bang. Mulai dari situlah para mahasiswa tingkat III ini membuat MOSES.

Awalnya mereka melakukan studi pendahuluan pada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Dari sana mereka menemukan yang paling dibutuhkan lebih ke epidemologi penyakit malaria tersebut. Lalu mereka mencoba menggabungkan ilmu yang mereka dapat dengan literatur yang ada.

"Dalam prosesnya pasti ada kesulitan. Apalagi kami enggak ngerti medical, coba baca literatur saja. Jadi harus bolak-balik ke dokter dan ke dinkes," terang Damas.

Setelah mendapat gambaran apa yang harus dilakukan, Damas dan rekan-rekannya, pada bulan November 2008 mulai membuat sistem tersebut. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, akhirnya Big Bang berhasil menemukan formula yang pas.

Dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Technology, akhirnya MOSES pun lahir. Optic glass yang terdapat dikamera menghasilkan gambar yang sama seperti yang terlihat di mikroskop. Gambar itulah yang dikirim ke server yang berada di Rumah Sakit Besar.

Selain menerima, server juga akan mengenali apakah dalam darah tersebut ada penyakit terinfeksi malaria. Hasil akan keluar beberapa menit setelah itu, dengan begitu waktu tidak akan habis terbuang dalam perjalanan.

"Keputusan akhir apakah seseorang tersebut terkena malaria atau tidak tetap ada di tangan dokter, tapi dengan hasil foto yang sama dengan hasil yang ada di mikroskop waktu yang diperlukan untuk melakukan diagnosa lebih singkat," kata Damas.

Untuk sistem MOSES ini, Damas dan kawan-kawannya hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.000.000. Namun jika dilakukan penghitungan lebih rinci lagi, biaya untuk memperbanyak MOSES ini akan jauh lebih murah, dibanding biaya untuk mengirim sampel darah ke dokter.

"Pemeriksaan darah untuk penyakit malaria itu adalah gold standar, maka kalau yang datang memeriksa hanya seorang bidan biasa, tapi datang sudah dilengkapi dengan MOSES itu, dapat dilakukan anamnesis langsung, ada berapa persen kemungkinan terkena malaria. Kalau ada kemungkinan, tinggal lakukan pemeriksaan darah dan hasilnya bisa langsung dikirim ke dokter," terang Damas.

Contoh darah yang telah ditaruh di preparat kaca dapat juga difoto dengan menggunakan kamera handphone biasa dan dikirim menggunakan MMS (multimedia messaging service), dan tidak tidak harus menggunakan PDA (personal digital assistant).

Saat ini telah ada beberapa pihak yang menyatakan diri tertarik dengan sistem MOSES ini. Namun Damas dan rekan-rekannya, belum berniat untuk memberikannya pada pihak manapun."Sekarang sedang fokus untuk Imagine Cup di Mesir nanti. Setelah itu baru kita pikirkan lagi," tandasnya.

Baca Selengkapnya......

Bio Farma Siap Produksi 4,5 Juta Dosis Vaksin Flu Burung


PT Bio Farma siap memroduksi sebanyak 4,5 juta dosis vaksin flu burung untuk manusia pada tahun 2010 mendatang. Untuk memproduksi vaksin tersebut, dibutuhkan investasi sebesar Rp 700 miliar untuk pembangunan pabrik, pengadaan mesin hingga pembangunan peternakan ayam di kawasan Cisarua, Cimahi.

Direktur Utama Bio Farma, Isa Mansyur di Bandung, Senin (11/5) mengatakan, vaksin yang diproduksi nantinya adalah vaksin H5N1 strain Indonesia. Apabila telah beroperasi di tahun 2010, diharapkan dapat diproduksi antara 20 juta-25 juta dosis vaksin flu burung untuk manusia setiap tahunnya.

Proses produksi virus flu burung dimulai dengan pembangunan pabrik serta kesiapan teklonogi yang diharapkan selesai akhir tahun 2009. "Untuk memproduksi vaksin flu burung ini, kami menggandeng kalangan perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Padjajaran Bandung," ujar Isa.

Pembangunan peternakan ayam tersebut, lanjut Isa, diharapkan supaya dapat memasok kebutuhan telor yang akan digunakan sebagai media penelitian. Menurut dia, virus H5N1 yang telah direkayasa nantinya akan disuntikkan ke dalam telor ayam untuk dikembangkan menjadi produk vaksin flu burung.

Produksi vaksin flu burung tersebut sepenuhnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Alasannya, apabila digunakan di dalam negeri, tidak memerlukan lisensi dari organisasi kesehatan dunia (WHO).

Lisensi dari WHO dibutuhkan jika vaksin flu burung dipasarkan ke luar negeri. Namun, apabila hanya dipasarkan di dalam negeri, lisensi cukup dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Baca Selengkapnya......